Jumat, 22 Februari 2008

Jejak Itu Luka

Eb.32

Masih seperti biasanya, malam itu jalanan nampak padat dan merambat. Hampir tak ada beda antara siang dan malam. Mungkin itulah yang membuat pak tua yang menjadi tukang tambal ban ditepi jalan raya itu seringkali becerita tentang matilah dijalan yang lurus. Nyatanya begitulah yang terjadi, jalan lurus yang membelah ditengah kota itu hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Matanya yang sipit dan kulit wajahnya yang kian keriput membuatnya seperti terpejam saat terbahak-bahak mentertawakan ceritanya sendiri. Beberapa orang yang sedang menambal ban ikut tertawa-tawa terbawa oleh cerita itu.
***
Sebuah malam menjelang pagi. Debu-debu mulai berterbangan menghias ruas jalan. Anak-anak sekolah, pengendara sepeda motor, kendaraan umum, mikrolet dan bus serta truk-truk berebut jalan saling mengejar waktu. Sementara dimalam hari yang seharusnya sepi hampir tak ada beda. Semua melaju berderet dan berdempet mencari cara untuk bisa sesegera mungkin mendahului. Maka tak ayal, punggung jalan raya terlihat semakin lusuh dan lunglai. Lekukan-lekukan karena tindihan beban dan lubang-lubang korosi terlihat disana-sini.
Empatbelas tahun yang lalu Tarjo masih menyaksikan deretan sepeda-sepeda kayuh menghiasi sepanjang jalan. Sementara kendaraan yang lalu-lalang terasa sepi, saat ia kembali mudik ke desanya menjelang liburan hari raya. Klakson kendaraan juga terdengar tak sekeras saat ini.
Pagi itu ia memulai perjalanan, setelah hampir lima jam berebut untuk mendapatkan keberuntungan bisa mudik dengan bus dan tempat duduk ke kampung halamannya. Sudah hampir empatbelas tahun ia tidak pernah pulang menengok orangtua dan saudara-saudaranya. Pekerjaan yang kurang menentu tidak memungkinkan ia untuk seringkali pulang kerumah mengunjungi mereka. Bahkan ketika ia mendengar saudara-saudara tuanya meninggal dunia, ia hanya bisa berdoa dari kejauhan. Mungkin dengan itu, ia akan semakin dicap sebagai saudara yang tak tahu diri. Namun begitulah kenyataanya. Ia telah siap untuk berbesar hati jika keluarga dikampung tidak bisa menerimanya dengan baik.
Bus yang ia naiki sudah penuh sesak, namun kondektur dan kenek masih terus berusaha mencari tambahan penumpang. Suara-suara sumbang menggerutu mulai terdengar dari beberapa orang yang lelah berdiri berdesakan. Mengumpat dan mencaci keadaan yang mereka alami. Aroma pengab membuat mereka mudah naik pitam. Belum lagi udara panas yang mulai mengalir disela-sela perasaan yang terpercik api amarah. Sungguh tidak manusiawi, Tapi disaat yang seperti ini pengusaha mana yang perduli kemanusiaan, karena dalam keadaan ekonomi yang serba berhimpit, arti kemanusiaan menjadi sulit untuk difahami, gumam Tarjo melepas penat.
Tiba-tiba terdengar suara mesin dinyalakan. Para penumpang merasa lega, bahkan tanpa dikomando mulut mereka serempak berucap haaaa, sebagai tanda kegembiraan karena perjalanan akan segera dimulai. Beriring dengan kegembiraan itu, klakson bus-bus yang ada dibelakangnya terdengar berteriak hebat, disertai raungan mesin yang riuh bergemuruh. Sesaat telinga-telinga yang ada didalam bus serasa diumpat oleh suara riuh yang memekakkan.
Akhirnya, bus ekonomi yang lusuh dan kusam itu perlahan mulai melaju meninggalkan lautan manusia yang membumbuhi wajahnya dengan aroma masam. Suara krenyit per dan baut yang berkarat terdengar seperti rintihan kerisauan yang menggalau. Namun begitu, para penumpang yang ada nampak mulai tersenyum. Sebuah harapan akan pertemuan dengan sanak famili tergambar lagi dalam raut wajah-wajah yang kering .
Ditengah keriuhan perasaan bahagia penumpang bus itulah Tarjo hanya diam termangu. Pandanganya menerawang tanpa batas. Angannya melambung dipucuk kegalauan. Kepulangannya kali ini tentu tanpa disertai dengan cerita bahagia. Semenjak dahulu ia adalah keturunan yang telah dianggap gagal. Berkali-kali orang tua dan saudaranya memberi bantuan agar hidupnya menjadi lebih baik. Namun bantuan-bantuan itu tidak pernah menolongnya. Justru keadaannya kian hari kian terpuruk. Banyak dari anggota keluarganya yang kecewa atas keadaannya. Sampai suatu saat ia telah dianggap benar-benar menjadi aib.
Semua keluarga telah kehilangan kepercayaan pada diri Tarjo, bahkan tidak jarang keponakannya sendiri mengumpatnya tanpa tanda hormat. Tarjo hanya bisa diam dan sabar atas itu semua. Ia tetap saja berusaha bersikap baik dan tidak memendam perasaan marah dihatinya. Apalagi saat ini, jika ia memberanikan diri pulang berkumpul dengan mereka semua, tentunya ia akan merasa semakin terasing. Kakak dan adiknya yang dapat menyelesaikan perkuliahan kini sudah bekerja pada instansi pemerintah dan adiknya yang perempuan bekerja disebuah perusahaan besar otomotif. Mereka adalah anak-anak yang berhasil membawa harum nama keluarga. Sedangkan Tarjo sendiri tidak pernah menyelesaikan perkuliahannya sampai pihak akademis mengeluarkan surat DO. Bahkan ia sendiri sudah seperti orang yang terbuang dari keluarga itu.
Pakaian sederhana, sepatu lusuh dan tas ransel yang warnanya mulai memudar melekat menjadi penghias perjalanan. Rambutnya sedikit kumal, namun matanya yang jernih membuat siapapun meresa teduh untuk memandangnya. Mata itu seperti hamparan samudera yang berombak landai, berangin spoi. Menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya dengan kegalauan hati.
Teman-teman seangkatan Tarjo sudah banyak yang sukses. Mereka ada yang menjadi politisi, pengamat, birokrat, anggota dewan dan kontraktor. Ada juga yang memiliki LSM terkenal dan mendapatkan banyak bantuan keuangan dari luar negeri. Rata-rata mereka sudah memiliki mobil-mobil mengkilap, rumah tinggal dan disertai keberadaan istri dan anak.
Mendadak orang tua yang berambut putih dan duduk dibangku sebelah menyela diantara ketermanguan Tarjo. Nak, anda mau kemana? Tanya pak tua itu dengan sopan. Saya mau pulang ke orang tua saya pak. Baguslah, kamu masih punya orang tua. Jadi masih banyak yang bisa kamu lakukan dengan mereka. Pak Tua itu kembali terdiam. Matanya berkeliling mengamati sekitar. Sepertinya ada sesuatu yang dipendam lewat kata-kata itu.
Nak Tarjo, pak Tua itu memulai kembali pembicaraannya. Bapak ini sedari kecil sudah tidak mengenal orang tua bapak, bahkan sekedar fotonya saja bapak tidak punya. Menurut cerita, mereka semua dibawa oleh aparat pada suatu malam menjelang subuh. Kepiluan itu rasanya masih belum cukup mendera, bapak juga kehilangan satu-satunya anak yang dulu pergi berpamit untuk ikut transmigrasi, sampai sekarang tidak ada lagi kabar beritanya. Bapak sudah berusaha mencari tahu keberadaan mereka, tapi pihak pemerintah tidak pernah memberi jawaban yang pasti. Sampai-sampai bapak sekarang pasrah, dan tidak sanggup lagi kalau harus bertanya.
Tarjo dengan serius mendengarkan keluh kesah pak tua itu yang membelah keriuhan perjalanan. Berhimpit diantara derit dan raungan bus, serta gelak tawa orang-orang yang berdesak sekedar menghibur diri dari kepenatan. Ia menyadari betapa keresahan jiwa pak tua itu tidak akan dapat dibasuh hanya dengan kata-kata yang sejuk.
Sejenak pak Tua itu terdiam, keningnya nampak berkerut sedang mengingat sesuatu. Sudahlah nak, mungkin ini sudah garis nasib dari perjalanan hidup bapak. Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Maaf pak, kalau boleh saya tahu bapak ini berasal dari mana, atau saat ini bapak juga akan mudik, Tarjo mulai bertanya. Lelaki tua itu kembali terdiam. Bapak tidak mudik nak, karena sebenarnya bapak tidak punya rumah. Saat ini bapak bekerja menjadi tukang sapu dan pembuat minuman disebuah kantor. Mereka menerima bapak hanya karena rasa kasian saja. Ditempat itulah setiap hari bapak tinggal, disebuah ruang kecil bekas gudang yang tidak dipakai diperbolehkan untuk bapak tinggali.
Tarjo terlihat mengangguk, sejenak ia memandang sosok tua tersebut dengan seksama. Lalu ia kembali bertanya. terus mengapa bapak ikut berdesak-desakan bersama orang-orang yang mudik. Seandaikan bapak bisa menjadi batu, maka bapak akan diam dan mematung disuatu tempat, jawab orang tua itu dengan tenang. Orang-orang dikantor memang tidak ada yang mengerti bahwa bapak tidak punya famili dan tempat tinggal, dan bapak tidak ingin mereka semua terbebani oleh keadaan bapak. Makanya bapak pura-pura ikut mudik. Meskipun bapak sendiri tidak mengerti mengapa harus melakukan ini.
Keduanya menjadi terdiam, langkah kondektur yang sedang menarik uang tiket berdesak diantara deretan penumpang yang berjejal. Sesekali terdengar ocehan para penumpang karena harga tiket dinaikan melebihi batas normal kenaikan. Tarjo dan pak Tua itu segera menyerahkan uangnya saat kondektur itu sampai disamping tempat duduknya. Suara deru mesin semakin keras. Laju kendaraan tua itu dipacu diantara deretan mobil-mobil dan truk-truk yang berhimpit. Sesekali badan bus terayun kekiri dan kekanan.
Tarjo dan pak Tua hampir tak menyisihkan waktu untuk memperhatikan padatnya jalanan. Mereka berdua larut dalam alur perasaan yang mendalam, dan berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Entah mengapa Tarjo hari itu bisa dengan lepas mengalirkan tumpukan kegalauannya yang sudah menggunung pada pak Tua itu. Ia memulai bercerita saat baru memasuki perguruan tinggi dan bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama memupuk idealismenya. Namun perjalanan telah mematahkan gagasan-gagasan besar yang pernah mereka perjuangkan bersama-sama. Kini Tarjo hanya tinggal sendiri, menunggui bangunan idealisme tersebut hingga tak satupun termakan rengat. Hari-harinya diisi dengan mengajar anak-anak jalanan dan kurang mampu, membantu masyarakat miskin dengan apa yang ia bisa. Sementara kawan-kawannya sudah sibuk menghitung upeti dan kekayaan yang mereka dapatkan didalam rumah barunya.
Pak Tua itu mengangguk. Memandang Tarjo hingga kelubuk hatinya. Ia seolah merasakan keras dan keteguhan anak muda yang ada disampingnya seperti gunung batu. Kamu sekarang menjadi miskin kan? Tiba-tiba pak Tua itu menyela. Mereka semua yang dulu pernah menjadi kawanmu, kini telah dengan sadar melupakan dirimu. Itulah hidup nak, dan disinilah bukti, bahwa kebenaran yang sesungguhnya tak pernah bisa dimengerti. Sudah banyak orang yang menjalani sesuatu tanpa harus dimengerti. Pengertian itu tidak lagi menjadi penting. Karena mereka merasa bahawa apa yang nyata dan yang mereka jalani itu lebih dari pengertian. Seperti bapak dan orang-orang yang bersama-sama mudik kali ini. Keadaan-keadaan inilah yang membuat siapapun menjadi semakin terasing. Terbawa pada suatu arus perputaran waktu. Orang sepertimu hanyalah salah satu yang mau menyangsikan kebenaran dari arus perputaran waktu itu. Saat kamu melemparkan diri dari kenyataan, mereka menganggapmu telah tersesat, aneh dan bodoh. Begitu juga dirimu saat memandang mereka semua. Seperti barisan bebek yang mengikuti arah berjalan tanpa mengerti kemana langkah berujung.
Bus itu perlahan menghentikan lajunya untuk menurunkan beberapa penumpang disebuah terminal. Namun ditempat pemberhentian itu juga sudah menunggu banyak penumpang yang hendak menuju kampung halamanya. Beberapa pengamen terlihat menelusup diantara penumpang yang sudah penat. Ocehan ringan sebagai pembuka mereka lontarkan. Sebuah lagu Ebit G Ad yang menceritakan tentang perjalanan yang menyedihkan menjadi ironi yang nyata. Telinga penumpang yang mendengar seperti ditusuk-tusuk oleh belati keresahan.
Pak Tua itu nampak tersenyum, sembari menyiapkan beberapa uang recehan ditangannya. Perlahan-lahan bus itu melaju diantara deretan penumpang yang mengantri, beriring nyanyian para pengamen yang terhimpit oleh sesaknya tubuh-tubuh kumal kaum kelas ekonomi. Perjalanan itu memang susah untuk dimengerti, pak Tua itu mengulang kembali kata-katanya. Tarjo hanya diam mengangguk, merasakan kedalaman setiap kata dari pak Tua yang hanya tukang sapu itu, meskipun Tarjo sendiri adalah orang yang sangat dikenal dikalangan para budayawan aktivis dan kaum pergerakan sebagai orang yang memiliki kedalaman pengetahuan. Namun ia lebih memilih untuk bertahan hidup dalam prinsip dan pemikirannya.
Tak berapa lama pak Tua itu berdiri. Tarjo sangat terkejut melihat hal itu. Bapak akan turun disini, ucap Tarjo terperangah. Benar, jawab pak Tua itu. Mengapa pak? Tanya Tarjo mendesak. Sedari tadi bapak sudah katakan nak Tarjo, bahwa bapak tidak memiliki tujuan, dan betapa hidup memang benar-benar susah untuk dimengerti. Seperti pilihan bapak untuk turun ditempat ini, bapak juga tidak mengerti. Tapi satu nak, yang bapak mulai mengerti, bahwa kamu adalah orang yang baik, namun kehidupan ini yang sedang membangun nilai, dan dirimu ada disebuah persimpangan. Tarjo terperangah dengan kata-kata yang menyindir itu.
Orang muda yang gelisah itu hanya bisa diam memandangi pak Tua yang menyodorkan tangan kepadanya sebagai tanda perpisahan. Sampai ketemu suatu saat, ucap pak Tua itu. Ia lalu melangkah dengan pasti menuju pintu depan. Sopir bus perlahan mengurangi kecepatan. Pak Tua itu segera turun dan melambaikan tangannya kepada Tarjo. Lelaki itu mengulum senyuman yang sejuk disudut bibirnya yang keriput.
Deru raungan mesin bus terdengar semakin berat saat memulai perjalanan. Pak tua itu pun menghilang dibelakang bus yang perlahan meninggalkannya. Tarjo merasa kehilangan orang yang baru saja menjadi teman berbagi keresahannya. Mungkin pak Tua itu juga merasakan hal yang sama, kehilangan teman untuk membantu merajam perasaannya.
Bus tua itu tetap melaju. Suara klakson berkali-kali terdengar memekakkan telinga. Kenek bus yang berada dipintu depan sebelah kiri seringkali mengumpat para pengguna jalan karena dipenuhi iring-iringan sepeda motor yang menyemut. Ia juga tidak pernah menyadari bahwa uang yang ia dapatkan tak sebanding dengan umpatan yang terus-menerus ia lontarkan. Beginilah hidup dalam dunia yang serba berhimpit, gumam Tarjo dalam hati.
Seorang perempuan setengah baya segera mengambil tempat duduk yang ditinggalkan pak Tua. Bau keringat yang menyengat dari tubuh perempuan itu membuat hidung Tarjo seperti tertusuk-tusuk. Ia segera menggeser kaca lebih luas agar udara yang masuk bisa mengurangi bau keringat yang terus menggelayuti hidungnya. Belum selesai ia mendorong kaca itu kedepan, tiba-tiba penumpang yang berada didepan menjerit histeris. Sontak semua penumpang dibuatnya panik, apalagi setelah tubuh mereka mendadak terayun-ayun karena bus yang ditumpanginya oleng dalam kecepatan yang tinggi. Sebuah ledakan keras terdengar dari arah kanan depan. Asap dengan cepat mengepul diringi sekali lagi suara benturan yang sangat keras. Bus tua itupun terguling berkali-kali dan terpental hingga keluar jalan.
Orang-orang yang kebetulan berada disekitar segera berhamburan keluar menyaksikan kejadian tragis yang hanya berjalan sekian detik itu. Sebuah bus tua yang melaju dengan kecepatan tinggi mengalami kecelakaan dan menghantam beberapa truk serta pengendara motor yang kebetulan berada tepat disaat bus itu oleng mengalami pecah ban. Orang-orang itu berlari mendekati ke arah badan bus yang terguling dengan posisi terbalik.
Asap mulai mengepul. Beberapa orang yang melihat percikan api segera berteriak untuk mengambil air dan apa saja yang bisa digunakan untuk memadamkannya. Kebetulan disamping tempat bus itu terguling terdapat jalur irigasi pesawahan yang airnya sedang menggenang. Orang-orang itu segera bahu-membahu mematikan sumber api yang hampir membakar bus tua itu.
Jalanan mendadak macet, karena terhalang oleh badan truk yang mencoba menghindar dari hantaman bus. Enam orang pengendara sepeda motor tergeletak dibadan jalan dengan kondisi yang mengenaskan. Tubuhnya terlindas bus saat badan bus itu terguling beberapa kali. Diantaranya terdapat seorang anak balita yang tubuhnya tergencet hingga organ bagian dalamnya terburai dijalan aspal yang legam.
Dengan cepat orang-orang sekitar menutupi mayat-mayat itu dengan lembaran-lembaran koran dan tikar yang mereka dapati disekitar lokasi. Polisi yang mendengar kabar kecelakaan segera menuju ke lokasi disertai aparat medis. Sementara beberapa rintih dan jerit kesakitan terdengar dari dalam bus. Mereka masih hidup, ada yang masih hidup. Orang-orang itu berteriak-teriak sambil mencari tahu keadaan korban yang berada didalam bus yang penuh sesak oleh penumpang.
Polisi dan tim medis yang agak terlambat datang segera bekerja dibantu para warga. Satu-persatu korban yang berada didalam bus dikeluarkan. Itupun setelah badan bus yang terbalik bisa didirikan kembali. Terhitung delapanpuluh tiga orang penumpang dalam kondisi yang mengenaskan. Beberapa wartawan segera meluncur untuk mengabadikan tragedi tersebut menjadi berita esok pagi. Sementara reporter televisi dengan cepat mengambil gambar dan melaporkan kejadian itu secara langsung, ditengah-tengah polisi dan para medis bekerja dibantu oleh orang-orang sekitar yang memberikan pertolongan pada para korban.
Mereka yang mengalami luka-luka dan masih dalam keadaan hidup diketahui berjumlah tigapuluh sembilan orang, segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Sementara empatpuluh-empat korban dinyatakan tewas meninggal ditempat kejadian. Korban meninggal itu segera diidentifikasi dari tanda pengenalnya dan dibawa kerumah sakit untuk selanjutnya diberitahukan pada pihak keluarga. Tarjo, adalah salah satu korban diantara empatpuluh empat korban meninggal lainnya. Dalam tanda pengenalnya ia berasal dari kota surabaya. Polisi segera menghubungi kepolisian surabaya untuk memberitahukan kepada keluarga Tarjo bahwa anggota keluarganya yang bernama Tarjo menjadi korban kecelakaan bus naas tersebut.
Polisi setempat mencari alamat dimana Tarjo tinggal. Sebuah rumah kecil diperkampungan kumuh dan padat itulah Tarjo tinggal. Beberapa orang nampak menyambut kedatangan polisi itu dengan tatapan sanksi. Namun mereka segera mempersilahkan polisi itu masuk. Dengan perlahan, polisi itu mengabarkan pada mereka bahwa Tarjo menjadi korban kecelakaan bus dan meninggal dunia ditempat kejadian. Jasadnya kini berada di sebuah rumah sakit umum daerah di Nganjuk.
Kabar itu terdengar seperti gemuruh merapi yang menyemburkan lahar. Dengan cepat orang-orang kampung yang mendengar mas Tarjo mati spontan menjadi seperti kesetanan. Orang-orang itu tak pernah percaya bahwa mas Tarjo mati karena kecelakaan. Sosok muda yang bersahaja dan sangat dekat dengan orang-orang susah itu berpulang dengan keadaan yang mengenaskan. Kabar kematian tragis mas Tarjo segera tersiar kemana-mana.
Beberapa orang yang mengenal mas Tarjo segera berdatangan menuju perkampungan tersebut. Belasan mobil berparkir disisi-sisi gang sempit. Sementara pemiliknya yang mengenal dengan baik mas Tarjo segera berlari kecil menuju ke sebuah rumah kontrakan kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Setelah mereka semua berkumpul, digelarlah rapat kecil untuk bersama-sama mengambil jenazah mas Tarjo. Namun beberapa diantaranya mengusulkan untuk langsung diantarkan kerumah duka didaerah Ngawi. Karena mas Tarjo pernah memberitahukan alamat asalnya dari sebuah desa didaerah Ngawi, meskipun sudah duabelas tahun mas Tarjo tidak berkunjung kesana karena tidak diterima oleh keluarganya, cerita salah seorang tetangga dekat rumah kontrakan mas Tarjo tersebut.
Rapat kecil itu segera memutuskan untuk mengambil jenazah dan mengantarkan langsung kerumah duka. Beberapa orang yang msih menyimpan alamat kampung mas Tarjo segera bergegas mengambil kerumah masing-masing. Mereka semua sepakat dan segera berangkat menuju kerumah sakit umum yang berada di daerah Nganjuk. Belasan mobil entah dari mana asalnya melaju menyemut menyusuri jalanan yang padat. Mas Tarjo adalah sosok yang memiliki jasa besar bagi banyak orang khususnya bagi orang-orang kampung itu. Ia sudah menjadi denyut nadi dan sanubari sekian banyak orang. Sehingga kabar kematiannya menjadi berita yang sangat menghenyakkan hati mereka.
Sementara disebuah desa kecil yang berada dikaki gunung lawu suasananya nampak mulai semarak oleh anggota keluarga mereka yang berangsur-angsur mudik dari kota. Hiasan-hisan jalanan dan lampu-lampu penerangan rumah mulai ditambah. Gelak tawa ceria terdengar dari sudut rumah-rumah yang sanak-saudaranya datang berkunjung. Begitu juga dirumah keluarga mas Tarjo. Orang tuanya nampak bahagia menimang-nimang cucu-cucu mereka yang mulai tumbuh besar dan lucu-lucu. Dua buah mobil terparkir dihalaman rumah, sedan itu adalah milik kakak dan adiknya yang kini sukses menjadi orang kaya dan menjadi kebanggan keluarga. Saudara-saudara dari keluarga yang lain nampak ikut berkumpul dirumah yang kini sudah dipugar menjadi lebih luas. Lantai marmer dan tembok yang dilapisi keramik memberi kesan mewah untuk sebuah rumah yang berdiri dipedesaan pinggiran. Sebuah televisi besar lengkap dengan DVD player terpampang disana. Lemari es yang jarang ada dikampung itu juga tersedia dengan ukuran dua pintu berdiri disudut ruangan.
Keluarga itu tidak pernah lagi membicarakan tentang Tarjo. Nama Tarjo seolah telah menjadi aib besar dalam keluarga. Ditahun-tahun sebelumnya jika keluarga itu berkumpul, sesekali masih mendengar sebutan Tarjo, namun mereka semua cepat-cepat menertawakan dengan terbahak-bahak. Hanya Narti yang bisu dan neneknya saja yang terlihat seperti memendam luka, meski perasaan itu tidak pernah mereka tampakkan. Narti dan Neneknya seperti mengerti betul tentang Tarjo, namun mereka memilih untuk berdiam dan tidak membicarakannya.
Diujung kampung beberapa orang yang sedang duduk-duduk disebuah garsu pinggir jalan, dikejutkan oleh rombongan belasan mobil yang menyemut menyusuri pesawahan menuju kearahnya. Didepan terlihat sebuah mobil putih yang diatasnya ada lampu yang dinyalakan berputar-putar. Itu ambulan, kata seorang anak yang sedang ikut menyaksikan rombongan mobil-mobil itu.
Pelan-pelan deretan mobil yang menyemut itu mendekati batas desa. Mereka berhenti sejenak untuk bertanya pada penduduk yang nampak termangu menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi. Seseorang keluar dari ambulan. Permisi pak, apa disini ada warga yang bernama mas Tarjo.
Orang-orang itu terdiam sesaat.
Tarjo....jawab seorang yang memegang kepala dan mengerutkan jidatnya. Ohh...ada mas, Tarjo itu anak pak Sodikun adiknya Gunardi yang punya mobil sedan itu.
Iya mas, ada.
Ee..maaf, apa bapak bisa mengantarkan kami kerumahnya.
Ohh...iya mas, tidak apa-apa. Mari mas, kami antarkan.
Beberapa orang desa itu segera menyalakan motornya dan menyusuri jalan kampung yang berdebu. Mereka belum mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi dan mengapa rombongan itu mencari rumah pak Sodikun. Tiba didepan rumah pak Sodikun orang-orang yang berkumpul didalam rumah sontak terkejut, melihat belasan iring-iringan mobil yang berdatangan. Mata mereka semakin terbelalak ketika sebuah ambulan memasuki halaman. Segera tim medis membuka pintu belakang. Beberapa rombongan yang lainnya menemui orang tua mas Tarjo dan mengabarkan tentang kematian mas Tarjo. Sebuah peti mati mereka angkat memasuki rumah yang kini telah banyak berubah.
Keluarga itu hampir tak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka nampak kebingungan menerima keadaan yang tak pernah terbayangkan sebalumnya. Semua tawa dan cerita akan kebanggaan atas anak-anaknya yang sukses serentak terkubur. Seorang anak laki-lakinya kini terbujur kaku dalam peti mati. Padahal baru saja petang itu mereka mentertawakannya. Sementara orang-orang yang tidak pernah mereka kenal terus berdatangan memberi bela sungkawa. Mobil-mobil mewah memadati jalan desa itu hingga pagi datang menjelang. Penguburanpun dilaksanakan dengan upacara kecil. Beberapa pejabat penting, mahasiswa, akademisi, politisi, dan beberapa pengusaha yang berempati kepada mas Tarjo hadir dan memberikan sambutan sebelum jenazah diberangkatkan. Orang-orang kampung dimana mas Tarjo tinggal juga memberikan sepatah kata perpisahan.
Semua menceritakan perjalanan mas Tarjo dengan sangat baik. Memori yang mengendap disanubari orang-orang yang memberi sambutan telah menghantarkan isak tangis mereka tanpa bisa dibendung. Anak-anak kecil yang selama ini dididik dan dibesarkan oleh mas Tarjo sontak menangis histeris dan memeluk peti mati yang ada didepannya. Mereka berteriak-teriak tak rela atas kematian mas Tarjo.
Keluarga mas Tarjo sendiri semakin bingun bercampur sedih melihat kenyataan didepannya. Mereka semakin tak mengerti apa yang telah mereka lakukan selama ini pada Tarjo, seorang anak yang telah dengan sadar mereka buang. Apalagi orang-orang desanya yang selama ini hanya mendengar cerita tentang Tarjo dari keluarganya. Mereka kini larut dalam tangis kebisuan.
Hanya Narti dan neneknya sedari tadi duduk disudut ruangan justru menguntai senyum bahagia dan bangga dibibirnya. Nenek tua itu berujar pada Narti yang bisu, semua telah ia tebus, lihat yang benar dan baik itu kini telah mereka mengerti, meskipun harus dilaluinya dengan jejak yang penuh luka. Lalu nenek tua itu terdiam. Sorot matanya menatap tajam peti mati yang berada didepannya. Dari arah belakang juga terdapat sepasang mata lelaki tua berambut putih yang berdiri diantara kerumunan. Lelaki tua itu terlihat mengulum senyuman yang sejuk disudut bibirnya yang keriput. Seperti senyum perpisahan yang ia sungging dipertemuan sebelumnya.
Dan beberapa wartawan pagi itu ikut mengabadikan prosesi pemakaman yang amat sederhana itu.


Tak terlalu berharap
13/09/07 00.22
Kediri

Tidak ada komentar: